Di tengah hingarnya dentuman pop, rock, hip hop, modern dance, brek dance, dan lain-lain yang berasal dari negeri sebrang, kelompok seni topeng betawi Setia Warga tetap bertahan untuk melestarikan kebudayaan nasional betawi yang mulai ditinggalkan masyarakat saat ini.
Kelompok seni Setia Warga ternyata tetap eksis meskipun pemimpin sekaligus pendirinya telah tiada, yaitu Bapak H. Bokir. Pada hari minggu, . . . kelompok topeng betawi ini menghibur puluhan pengunjung di komplek betawi, Setu Babakan, JakSel dengan benyolan-banyolan segar khas betawi.
“Setiap Warga masih ada, meskipun pimpinan kami Alm. H. Bokir telah tiada, tatapi kami sebagai generasi penerus akan terus melanjutkan perjuangan belau untuk melestarikan kebudayaan betawi”, ujar salah satu anggota Setia Warga di tengah-tengah pertunjukannya.
Dimulai pada pukul 14.00 hingga berakhir pada pukul 16.00 WIB. Acara tersebut dikemas dengan sejumlah pertunjukan yang sangat menarik. Dibuka dengan tari-tarian tradisional betawi, lalu pertunjukan topeng betawi yang sangat menghibur dan mengundang gelak tawa para penonton serta dilanjutkan dengan pertunjukan lenong. Pada acara tersebut hadir juga beberapa bintang tamu dari dunia artis yang juga merupakan orang betawi asli yaitu H. Mandra dan Mastur.
Read More,,,
Topeng Betawi Setia Warga, Tetap Eksis
Janji
Aduuuuh…
Ada janji nih…
Janji adalah komitmen. Kalau kita bikin acara sama teman, pasti diawali dengan janji. So, dalam kehidupan sehari-hari janji itu memang penting. Tapi suatu ketika pasti muncul situasi dimana kita nggak bias memenuhi janji yang sudah kita ucapkan.
Nah… ada tips buat yang terpaksa ngebatalin janjinya.
Beri Alasan Yang Tepat
“ Sorry nin, gw tiba-tiba nggak mood nih. Barusan gw dapet tawaran yang lebih seru dari mas Sigit, jadi maaf deh gw nggak jadi ikutan.” Nah, kebayang nggak kita sudah capek-capek menjemput, eh jawaban temen kita seperti itu.
Kesel kan? Rasanya koq nggak bertanggung jawab.
Makanya kalau mau batalin janji kitapun kudu siap-siap dengan alasan yang tepat dan masuk akal. Maksudnya supaya teman kita bisa ngerti dan nggak tersinggung. Soalnya yang namanya janji itu menyangkut masalah kepercayaan. Sekali kita melanggar janji, berkurang deh kepercayaan orang pada kita
Jangan Mendadak
Kalau kita punya alas an yang tepat untuk batalin janji, usahakan untuk tidak manyampaikan secara mendadak, minimal beberapa jam sebelumnya. Kecuali kalau memang ada kejadian khusus yang betul-betul mendadak. Itupun kita kudu menjelaskan dengan tuntas pada teman kita supaya nggak dongkol. Jangan lupa minta maaf sebagai ungkapan rasa tanggung jawab kita.
Cari Alternatif Ketiga
Alternatif ketiga adalah cara lain untuk berkompromi dengan janji. Misalnya kita janjian nonton sama teman. Eh, tanpa kita ketahui sebetulnya pada jam yang sama papi mami kita mau pergi kondangan, dan kita dipesan untuk jagain adik yang masih kecil. Artinya nggak boleh keluar rumah , dong. Nah, kenapa nggak kita buat alternatif ketiga. Kalau harus hari itu, bisa diganti dengan nonton DVD atau TV. Atau kita bisa bikin janji baru dilain hari itung-itung untuk ngilangin rasa kecewa.
Hemat Dengan Janji
Kita sudah tau kan gimana konsekuensinya kalau ngebatalin janji. Sekarang langkah akhir yang paling penting adalah berhati-hati dengan janji. Buatlah pedoman, nggak akan ngebuat janji kalau nggak bisa kita penuhi. Janji adalah kesepakatan. Jadi kalau kita merasa nggak sepakat, ungkapkan saja secara terbuka. Nggak usah merasa nggak enak atau merasa takut dibilang nggak kompak. Yang tahu kemampuan kita kan diri sendiri. So, berhematlah dengan janji!!
Malaikat Maut Di Samping Kita
Kapan kita meninggal? Lima puluh tahun lagi? Sewindu lagi? Bulan depan? Minggu depan? Atau. . .malam ini? Kita memang tidak pernah tahu jawabannya. Walau kematian adalah sesuatu yang biasa, tetapi rasanya tetap menusuk bila itu berkaitan dengan orang-orang terdekat kita. Tadi siang baru saja saya mendengar kabar di sekolah seorang rekan saya meninggal. Panggilannya Zsa Zsa. Ia satu angkatan dengan saya. Jadi usianya kira-kira 17 tahun. Usia yang buat banyak orang, sedang manis-manisnya. Mungkin ia pun tidak pernah menyangka akan dipanggil secepat itu.
Saya terhenyak. Sungguh, Beberapa tahun yang lalu saya mengenalnya dalam sebuah acara penerimaan siswa baru. Saya hanya ingat samar-samar. Ia masih penuh semangat, lugu, polos. Baru lulus dari SMP. Ia juga senang menulis seperti saya. Bedanya, ia pintar menggambar. Kalau tidak salah ia ingin menjadi seorang desain interior atau apalah. Saya lupa persisnya. Dalam malam renungan ketika itu, ia menangis bersama teman-temannya. Menangis mengingat dosa, teman-teman, orang tua...
Kematian memang sering terjadi di sekitar kita. Tapi tidak banyak yang sudi membicarakannya dengan terang-terangan. Mungkin itulah salah satu sebab mengapa kita (atau setidaknya saya) tidak begitu sering mengingat mati. Padahal dalam semua kitab suci banyak membahas tentang kematian dan kehidupan sesudahnya.
Banyak faktor yang membuat banyak orang takut pada kematian. Enggan karena tidak tahu persis apa yang akan dihadapi setelah mati. Mungkin juga khawatir akan keluarga yang ditinggalkan. Atau sekadar belum rela saja meninggalkan hidup yang sedang enak-enaknya.
Tapi kita pasti mati! Hidup didunia pasti berakhir... akan tiba di mana saat malaikat maut menjemput kita. Bisa perlahan, tak jarang pula super mendadak dan tidak terduga. Meminta nyawa yang kita kira tak akan lepas. Lalu tanah ditaburkan segenggam-segenggam ke atas tubuh kita. Berat. Gelap. Tidak ada yang mendengarkan teriakan kita karena memang suara yang keluar tidak lagi dapat ditangkap oleh telinga manusia.
Baru pada saat itulah kita merasakan penyesalan yang sesungguhnya... kalau sekarang, jarang rasanya kita merasa rugi ketika waktu kita tersita oleh kegiatan yang tidak berguna barang sejam atau dua jam. Tapi ketika nyawa mulai meregang, barulah kita merasa. Berharap seandainya semua sakit itu bisa ditunda barang sekian milidetik saja... agar kita bisa bersujud amat sungguh-sungguh. Untuk pertama kali (dan mungkin terakhir) dalam hidup kita. Memohon ampun kepada tuhan untuk yang terakhir kalinya... mengatakan semua cinta yang tidak sempat kita katakan, pada orang tua, kakak atau bahkan pada adik yang sering kita goda... seandainya, seandainya, seandainya... Saudaraku... beruntung bila ada orang yang menangisi kepergian kita. Merasa kita telah mengisi hidup mereka dengan cara yang istimewa. Lalu orang-orang itu akan merasa kehilangan. Syukur-syukur mendo’akan dengan tulus.
Tapi... percayalah, pada suatu saat mereka akn berhenti bersedih. Berhenti berduka. Memori akan diri kita mulai tergerus dari ingatan mereka. Langit juga tetap biru. Matahari tetap sama hangatnya tak peduli yang meninggal putri raja sekalipun. Dan tinggallah kita sendiri. Sempit, gelap, berat. Hanya ditemani amal-amal kita. Mungkin selama ini kita merasa punya cadangan amal. Tapi benarkah itu? Jangan-jangan yang ada hanya busuk karena amalan yang digerogoti ketidakikhlasan, kemunafikan, kesombongan...
Bila kita menonton TV 4 jam sehari, misalnya. Berarti itu sama dengan sekitar 120 jam sebulan, atau 1440 jam setahun. Totalnya bisa mencapi 10 tahun bila kita diberi usia 60 tahun. Pemborosan yang kuar biasa. Mungkin sebagian kita tidak menonton TV selama itu. Tapi jagan lupa, dengan obrolan kita yang ngalor-ngidul, waktu yang habis untuk melamun, jalan-jalan tanpa arah... jangan lupa juga bahwa tidur, makan, minum, dll itupun menghabiskan waktu.
Pun terlalu banyak waktu yang habis untuk mendendam. Meributkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu. Bergulat dengan emosi negatif dan lamunan kosong yang membuat kita tidak produktif, tersinggung, sakit hati. Padahal kalu dperhatikan, produktifitas seseorang bisa berkurang drastis ketika ia dikuasai emosi negatif.
Lantas kapan kita ingat pada tuhan? Kalu mau jujur, bahkan seringkali ketika sujudpun kita tidak sungguh-sungguh.
Adik kelas saya Zsa Zsa sudah pergi. Ia tidak lagi bersegera menyambut adzan. Juga tidak bisa lagi menguntai do’a di penghujung malam. Tidah bisa lagi bersua dengan orang-orang yang mengasihinya. Tapi kita masih disini. Masih punya waktu, yang entah sampai kapan, untuk bertaubat. Benar-benar bertaubat. Memang seringkali terasa berat. Tapi ayo kita coba... kita harus gigih berjuang... harus...!! mudah-mudahan keteguhan kita untuk senantiasa kembali kejalan-Nya juga dicatat sebagai amalan tersendiri.
Read More,,,
Anti Stigma dan Diskriminasi
Para pengidap HIV/AIDS bukanlah penjahat, mereka hanyalah korban yang kehidupannya telah di jamin oleh undang-undang. Jangan berpikir bahwa virus HIV/AIDS tak ada obatnya dan janganlah kita mendeskriminasikan mereka, kitalah yang seharusnya memberikan kontribusi yang lebih berarti. Hanya dengan beberapa kata seperti semua penyakit ada obatnya, berarti kita telah menunjukkan suatu bentuk keprihatinan kepada saudara kita. Selama ini banyak saudara kita yang telah terdeskriminasikan oleh kalian yang semena-mena mencap bahwa penderita HIV/AIDS sebagai orang kotor, bahkan caci maki hinaan keluar dari mulut kalian. Berpikirlah dengan hati nurani, bencilah virusnya jangan orangnya, mereka sama seperti kalian yang bisa menangis, tertawa, dan juga memiliki hati dan perasaan. Beban penyakit ini sudah cukup berat tanpa hinaan dari kalian, mereka sadar perbuatannya dan tahu akan akibatnya,,,
Semua ada hikmahnya, sekarang saudara kita lebih memaknai arti hidup yang sesungguhnya, dan satu hal yang penting, takdir di tangan Tuhan. Pesan bagi para korban HIV/AIDS, “Mulailah dari sekarang, berbuat sesuatu agar hidup lebih berarti, jangan berdiam diri, kalian harus bangkit, optimis, dan jangan menganggap hidup kalian hanya sampai di sini karena itu tindakan pengecut, kalian adalah ujung tombak bangsa ini, kalian harus bangkit, berilah ilham pada saudara-saudara kalian agar tidak mengalami kesalahan yang sama, berilah petunjuk bagi generasi selanjutnya agar tidak terjerumus. Janganlah berputus asa, saudara-saudara kalian yang lain tidak akan mendeskriminasikan apabila kalian tidak mengucilkan diri, bersatulah, kampanyekan diri kalian, tetaplah eksis di negeri ini, torehkan nama kalian di hati para kerabat kalian, berinovasilah, tataplah ke depan, jiwa kalian bebas meskipun raga kalian rapuh. Nyalakanlah lilin, kobarkan semangat kalian dan jaga agar tidak padam di telan kegelapan. Selagi ada semangat janganlah berputus asa karena kalian bukan penjahat yang patut di deskriminasikan. Buanglah jauh-jauh stigma itu dan mulailah hidup dengan semangat baru”.
Read More,,,
Touring Sepeda Cileungsi - Gadog
Pada kesempatan yang lalu salah seorang kru liputan kami mengikuti kegiatan olahraga yang
diselenggarakan oleh GitaWanara SMA plus PGRI Cibinong yang bertemakan “Genjot Sehat”. Kegiatan ini adalah salah satu acara yang dimana pesertanya mengendarai sepeda dan berkendara hingga daerah gadog yang terkenal dengan tanjakannya. Semula anak-anak ini hanya iseng-iseng saja dan menganggap ide tersebut sangat tidak masuk akal ternyata anak-anak yang lain merespon positif kegiatan tersebut. Mereka yang mengikuti acara ini berjumlah 12 orang, yaitu Sigit, Yayan, Iyan, Ade, Yogi, Dimas, Agung, Umang, Aji, Alan, Gesit, dan Wien. Beberapa dari mereka memang terkenal dengan ide gilanya apalagi dari anggota GitaWanara, mereka mempunyai banyak ide untuk mengisi acara libur sekolah dengan berbagai macam kegiatan positif.
“ Touring ini memang sangat melelahkan tetapi kami sangat puas dengan respon dari mereka” ujar Iyan salah satu anggota GitaWanara yang mengikuti acara tersebut. Mereka start dari Cileungsi jam 2 dini hari pada tanggal 6 april 2007 dan tiba di Gadog pada pukul 6 pagi harinya. Mereka melewati banyak tanjakan curam salah satu dari mereka juga mengalami putus rantai, ban pecah dan hambatan lainnya, tetapi mereka sangat kompak sehingga hambatan tersebut dianggap sebagai lelucon yang menghibur. Inilah berbagai macam tanggapan yang menarik dari anak-anak tersebut.
Wien, “ Kapan-kapan kita adakan lagi koq!”
Yogi, “ Gw kapok! Mendingan gw naek motor!”
Dimas, “ Besok kita touring ke Ancol!”
Iyan, “ Enggak Lagi deh!”
Sigit, “ Banyak Cewe yang liatin kita-kita loh!”
Umang, “ No, comment!”
Masjid Megah Berlapis Emas
Udara panas siang hari terasa menyengat, berharap awan mendung menghalangi sinar sang surya, gerimis pun datang mengasihi dan langkah pun melaju disiang hari yang teduh. Pada kesempatan kali ini kami akan mengajak anda sekalian untuk mengikuti peliputan kami dimasjid Dian Al-Mahri atau yang lebih dikenal dengan “ Masjid Kubah Emas” yang berada di Jl. Dian Al-Mahri No. 8 A, Maruyung-Cinere-Limo-Kota Depok. Reporter kami berangkat menuju masjid Dian Al-Mahri dengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan reporter kami tidak bisa dibilang mudah apalagi tidak ada satu pun yang memiliki surat ijin mengemudi, namun akhirnya mereka berhasil sampai ditujuan dengan selamat tanpa kendala yang berarti. Terlihat digerbang utama orang-orang berlalu lalang dengab berbusana muslim, baik wanita maupun pria mematuhi peraturan untuk menutup auratnya. Kami mengikuti iringan tersebut setelah sebelumnya memarkirkan kendaraan terlebih dahulu. Dari kejauhan terlihat masjid yang anggun dan halamannya yang asri, dikanan kiri kami tertanam tanaman bougenville yang berwarna-warni dan rumput hijau yang tersebar didua sisi kami menambah asri pemandangan kami. Dari kejauhan juga terlihat enam minaret berbentuk segi enam berjumlah enam yang melambangkan rukun iman, minaret tersebut menjulang ke angkasa setinggi empat puluh meter. Keenam minaret dibalut granit abu-abu dari Itali dengan ornamen yang melingkar, pada puncaknya terlihat kubah berlapis mozaik emas 24 karat, dan terlihat juga lima kubah emas yang indah, kubah ini banyak digunakan di masjid-masjid Persia dan India, ternyata lima kubah ini juga melambangkan lima rukun islam. Seluruh kubah ini dibalut mozaik emas 24 karat yang materialnya didatangkan dari Itali. Setelah puas mengagumi keindahan masjid dari kejauhan, kami berjalan kembali mengikuti jalan beraspal yang terus menerus di lewati oleh bis-bis pariwisata yang berlalu lalang.
Akhirnya kami tiba disalah satu pintu masuk masjid dan ternyata pintu ini khusus dilewati oleh pria sedangkan wanita terpisah dibeberapa pintu lainnya. Di masjid ini terdapat empat buah pintu masuk khusus, yang dua khusus wanita dan dua khusus pria. Setelah mengamati sejanak kami terus berjalan melewati lahan parkir yang luas dan beberapa juru foto yang menjajakan jasanya. Kami melewati gedung serba guna sebagai tempat peristirahatan bagi para pengunjung, disamping gedung ini tersedia toilet khusus untuk kaum ibu karena dimasjid hana tersedia tempat wudhu bagi kaum ibu. Setelah itu disebelah kanan gedung serba guna terdapat rumah tinggal untuk para pengurus masjid, rumah tinggal ini berhalaman luas sekali dan ada beberapa petugas yang mengawasi di pintu gerbangnya. Setelah beberapa lama, jalan yang kami lalui sedikit menanjak dan ditepi jalan tersebut terlihat beberapa pedagang souvenir menjajakan cindera mata dan terdapat pula dapur umum. Kami berputar kembali dan berjalan mengelilingi masjid, kami tidak menyangka ternyata masjid ini luas sekali, kami melewati kembali rumah tinggal dan melihat ada vila yang berdiri kokoh dibelakang rumah tinggal, semula kami tidak menyangka ada vila di kawasan masjid dan ternyata masjid ini memiliki tiga vila, satu terletak dibelakang rumah tinggal, satu didepan danau, dan satunya lagi terletak dibelakang areal parkir. Ternyata selain penjual souvenir dikawasan masjid ini juga ada rukonya, loh!. Sekilas memang tidak terlihat ada ruko tetapi setelah melewati jalan kecil dibelakang gedung serba guna ruko ini terlihat.
Di ruko ini terdapat butik khusus busana muslim, counter HP, dan masih banyak lagi. Danaunya juga sangat asri terutama pohon-pohon besar yang rindang menambah damainya pemandangan tersebut. Akhirnya saya memberanikan diri masuk kedalam masjid sendirian, karena rekan saya seorang wanita dan harus melewati pintu yang berbeda. Di dalam saya melihat halaman dalam yang berukuran 45x57 meter, halaman ini mampu menampung 8000 jemaah. Salah satu sisinya berhubungan dengan ruang salat, sedang tiga sisi lainnya dibatasi selasar dengan deretan pilar-pilar berbalut batu granit dari Brasil. Pilar-pilar tersebut membentuk deretan arcade yang seolah menjadi pembatas dari halaman dalam ini. Di sekeliling ruang salat tersebar kaligrafi bergaya tsulutsy yang ditulis dengan batu marmer hitam yang diselipkan kedalam marmer putih sebagai dasarnya dengan menggunakan teknik waterjet. Penulisannya dikerjakan oleh seorang ahli pahat negeri ini yang pernah menuliskan mushab istiqlal pada tahun 1944. Pada dinding depan ruang salat tertulis surat Al-Mu’minuun ayat 1-11, kemudian surat Thaahaa ayat 14 ditempatkan diportal mihrab, sedang sepanjang dinding sisi utara dan selatan terpampang kalimat syahadat yang berulang-ulang memenuhi setiap segmen fasadnya. Di portal pintu masuk sisi utara dan selatan tertulis do’a I’tikaf dan dipintu utama tertulis do’a memasuki masjid. Sebagai representasi langit, pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah sesuai dengan warna langit pada waktu-waktu salat.
Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan teknologi tata cahaya yang deprogram dengan bantuan komputer. Pada dasar kubah terdapat cincin yang diberi aksen warna emas seolah menjadi batas cakrawala. Di atasnya terdapat 33 jendala yang masing - masing diisi dengan tiga nama Allah SWT dengan bentuk kaligrafi sehingga seluruhnya berjumlah 99. Pada puncak langit-langit kubah terdapat ornamen kaligrafi berupa shalawat yang terbuat dari lempengan kuningan berlapis emas seolah sedang terbang kelangit. Selain itu, ditengah kubah tergantung lampu kristal yang serupa dengan yang tergantung dimasjid Sultan Oman, berat lampu kristal 2,7 ton dan rangka terbuat dari kuningan yang berlapis emas 24 karat. Bagian dalam dari masjid ini menghadirkan pilar-pilar yang kokoh menjulang guna menciptakan skala ruang yang agung. Mereka yang berada didalamnya akan merasa kecil, sehingga membangkitkan suasana tawadlu dalam keagungannya. Setelah puas memandang keindahan dan kemegahan ruang dalam masjid, saya sempat berbincang dengan anggota DKM masjid yang tidak saya ketahui namanya, beliau menjelaskan sejarah panjang pembuatan masjid ini. Masjid Dian Al-Mahri diresmikan pada tanggal 31 Desember 2006 bertepatan dengan pelaksanaan salat Idul Adha 1427 H oleh pendiri masjid Dian Al-Mahri, Ibu Hj. Dian Juriah Maimun Al Rasyid dan Bapak Drs. H Maimun Al Rasyid. Sesuai dengan bentuknya masyarakat menyebutnya dengan sebutan “ Masjid Kubah Emas “ , masjid ini memang menggunakan material emas dengan tiga teknik pemasangan, yang pertama serbuk emas ( prada ) yang terpasang di mahkota pilar/tiang capital. Yang kedua, gold plating terdapat pada lampu gantung, riling tangga mezanin, pagar mezanin, ornament kaligrafi kalimat tasbih dipucuk langit-langit kubah dan ornament dekoratif diatas mimbar mihrab. Yang ketiga, gold mozaik solid yang terdapat di kubah utama dan kubah menara. Masjid seluas 8000 m² ini berdiri diatas lahan seluas 70 hektar. Masjid inimerupakan bagian dari konsep pengembangan sebuah kawasan terpadu yang memfasilitasi kebutuhan setiap insan umat islam akan sarana ibadah, dakwah, pendidikan, dan social yang menyatu dalam ruang lingkup kawasan Islamic center Dian Al-Mahri. Pembangunan masjid dimulai pada bulan April 1999 yang ditandai dengan pemancangan tiang pancang pertama oleh pendiri Masjid Dian Al-Mahri sekaligus pendiri kawasan Islamic centre Dian Al-Mahri, Ibu Hj. Juriah Maimun Al Rasyid dan Bapak Drs. H. Maimun Al Rasyid. Ruang mezanin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, dan ruangan fungsional lainnya mampu menampung 15.000 jamaah untuk pelaksanaan salat dan untuk pelaksanaan Majlis Taklim mampu menampung 20.000 jamaah. Setelah berbincang sejenak, saya undur diri karena hari telah beranjak sore dan awan telah kembali kelabu, tak lupa mengucapkan terima kasih, saya bergegas keluar masjid dan menumpai rekan saya yang ternyata telah sabar menunggu dipintu masjid khusus wanita. Setelah mengambil beberapa dokumentasi, kami bergegas kembali ke kendaraan kami dan membayar penitipan motor Rp. 2.000,00. Meskipun kami hanya sebentar tetapi kenangan akan masjid tersebut tetap melekat dihati kami.
Perpaduan tipologi arsitektur yang mengagumkan melambangkan ciri keislaman yang sangat kuat, dengan suasana lingkungan masjid akan semakin menghantarkan perasaan setiap orang untuk menggerakkan jiwanya dan membulatkan niatnya bagi peningkatan keimanan dan ketaqwaan, keindahannya mengingatkan kita kepada kebesaran sang pencipta, dan semua itu menjadi sesuatu yang berharga dan bisa dijadikan sebagai pengingat bila kita benar-benar memahami apa yang ada dirumah tuhan itu.
Read More,,,
